Rabu, 04 April 2012


ROMANTIKA KEHIDUPAN
Ditulis : Muhammad Fahrurroji
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta


1.   Latar Belakang
Selama nafas masih dalam jasad badani, maka selama itu pula manusia akan senantiasa berhadapan dengan masalah. Karena itu, manusia harus menyadari bahwa hidup ini kumpulan masalah. Siapapun orangnya, setinggi apapun kedudukannya, sebanyak apapun hartanya, dimanapun dan kapanpun, pasti akan menghadapi masalah. Ada pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi kedudukan, semakin tinggi pula masalah yang dihadapi. Seperti halnya sekolah, semakin tinggi tingkatannya semakin berat juga ujiannya.
Perasaan senang, susah, gembira, bersedih adalah bagian dari perjalanan hidup manusia atau inilah yang kerap disebut sebagai romantika kehidupan. Proses perjuangan menaklukkan masalah itulah yang dikatakan sebagai hidup, sehingga seorang yang membenci masalah sama halnya dengan membenci kehidupan.
Kehidupan di dunia ini memang penuh dengan misteri. Jika sekiranya masa depan bisa diketahui, sudah barang tentu seseorang sudah tahu kemana harus pergi dan apa yang harus dilakukan. Jika seseorang melihat hidup ini sebagai rangkaian tantangan, maka setiap permasalah yang dihadapi dianggap sebagai sebuah kesempatan untuk berkembang. Namun sebaliknya, apabila membayangkan kehidupan ini sebagai lingkaran masalah tak berujung, maka hasilnya adalah perasaan pesimistis, keputus asaan dan kegelisahan.
Semua orang secara adil mendapatkan masalah, hanya bentuk dan kadarnya sajalah yang membedakan. Masalah adalah sunatullah maka mau tidak mau setiap orang akan selalu menemuinya. Karena masalah memang Allah ciptakan menyatu dengan kehidupan manusia. Oleh sebab itu tak salah jika Imam Ghazali menyebutkan bahwa kebahagian manusia itu adalah ketika ia bisa mengenali diri sendiri.[1]
Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya dalam menghadapi romantika kehidupan ini selalu menyandarkan diri kepada Allah SWT. Sebab Allah merupakan dzat yang membuat kehidupan dan sudah tentu Allah jugalah petunjuk terbaik dalam menjalani kehidupan.
Nabi sebagai manusia sempurna yang bisa dijadikan tauladan bagi segenap umat, juga tidak lepas dari berbagai kesulitan. Karena itu dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam bukhari, nabi mengajarkan doa kepada kita ketika menemui kesulitan.
عَنْ اِبْنِ عَبَّاسِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صعلم يَدْعُو عِنْدَ الْكَرْبِ يَقُوْلُ: لَأالَهَ الّأ اللهُ العَظِيْمُ الحَلِيمُ لَأالَهَ الّأ اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
Dari Ibnu Abbas berkata: nabi SAW berdoa ketika dalam kesulitan, “ Tiada Tuhan selaian Allah Yang Maha Besar dan Maha Penyantun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan bumi, Tuhan arasy Yang Maha Besar[2]
Atas dasar inilah penulis mencoba untuk menganalisa dalil-dalil yang berkaitan dengan romantika kehidupan, khususnya surat Al-Insyirah, serta cara menyikapi problematika hidup sebagaimana yang disyariaatkan Allah dan rasul-Nya.



2.   Telaah terhadap Surat Al-Insyirah


1.    Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
2.    Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu.
3.    Yang memberatkan punggungmu
4.    Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu
5.    Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6.    Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
7.    Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
8.    Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap[3]
Mengenai penamaan surat ini, para ulama berbeda pendapat. Ada sebagian yang menamakan surat ini dengan surat Alam Nashrah, ada pula yang menyebutkan dengan asy-Syarh dan juga ada yang menamainya al-Insyirah[4].  Dalam mushaf Al-Qur’an cetakan Indonesia hampir semua menuliskannya dengan nama surat al-Insyirah. Sedang umumnya Qur’an cetakan timur tengah menyebut dengan asy-Syarh.
Menurut Jalalludin as-Sayuthi dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul yang dikutip oleh Yuli Farida, bahwa secara historis turunnya surat ini dilatarbelakangi atas peristiwa penghinaan dan olok-olokan kaum musrikin terhadap kaum muslimin dengan kefakiran dan kemiskinan. Oleh karena itu, surat ini diturunkan sebagai pelipurlara bagi rasulullah dan pengikutnya[5].
Sementara ath-Thabarsi dalam tafsir Jam’u al-Bayan, kutipan Yuli Farida dalam Dahsyatnya Surat Alam Nasyrah, menuturkan bahwa fadhilah membaca surat ini dapat menghilangkan kesedihan yang dialami[6].
Dengan melihat sekilas arti dalam surat al-Insyirah ini kita dapat mengetahui bahwa tema utama surat tersebut adalah tentang penenangan hati Nabi Muhammad SAW menyangkut masa lalu dan masa datang beliau, serta tuntunan untuk berusaha sekuat tenaga dengan penuh rasa optimisme.
Meski surat al-Insyirah ini secara historisnya diturunkan sebagai tasliyah/pelipurlara bagi nabi Muhammad, namun sebagai tuntunan banyak kandungan yang dapat diambil pelajaran, terutama dalam menyikapi problematika kehidupan.
Pada ayat ke-5 dan 6 surat al-Insyirah kita dapat melihat Allah telah menjanjikan bahwa betapapun beratnya kesulitan yang dihadapi, pasti dalam celah-celah kesulitan tersebut terdapat kemudahan. Ayat tersebut memesankan agar manusia senantiasa berusaha menemukan segi-segi positif yang dapat dimanfaatkan dari setiap kesulitan.
Ayat ke-5 surat al-Insyirah yang diulang kembali pada ayat ke-6 menunjukkan adanya penekanan. Pengulangan ini menurut Muhammad Abduh terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam. Sudah semestinya mereka menyadari, bahwa setiap kesulitan itu ada kemudahan dan bahwasanya janji Allah itu pasti benar. Dengan demikian sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslimin mengikuti jejak rasullulah dan meneladaninya.[7]
Untuk menguatkan keyakinan bahwa setiap kesulitan terdapat kemudahan, maka ayat tersebut mengalami pengulangan dua kali. Keseriusan ayat tersebut juga ditunjukkan dengan penggunaan lafald inna (انَّ) yang dalam kaidah nahwiyah disebut sebagai ta’kid atau pengokohan. Dengan demikian sangatlah terang bahwa tidak ada permasalahan yang tidak ada jalan keluarnya asalkan senantiasa berusaha dan bertawakal kepada Allah. 
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, rasulpun menghimbau kepada umatnya agar dalam menghadapi problematika hidup segera menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Dengan menyandarkan diri kepada ketentuan Allah, hidup akan menjadi lebih tenang, tentram, tanpa kekhawatiran atau kegalauan.
اَلْمُؤْمِنًوْنَ القَوِيُّ خًيْرٌ مِنَ الْمًؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلِّ خَيْرٍ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنُ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ , وَاِنْ اَصَابَكَ شَيْئٌ فَلَأ تَقُلْ لَوْ اَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا, وَلَكِنْ قُلْ قَدَرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَاِنْ "لَوْ" تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ( رواه مسلم)
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Karena itu pegang teguhlah di tiap-tiap kebajikan yang akan memberi manfaat. Mohon pertolonganlah kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Dan jika engkau ditimpa suatu bencana, janganlah enkau katakan: jika aku berbuat begini akan tentu akan menjadi begini, tetapi katakanlah telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Allah kehendaki, Allah membuatnya. Maka sesungguhnya perkataan “seandainya” membukakan amalan syaitan” (HR Muslim) 
3. Sikap Muslim dalam Menghadapi Romantika Kehidupan
Surat al-Insyirah mengajarkan kepada kita untuk selalu optimis dalam menghadapi romantika kehidupan. Keyakinan kita bahwa setiap kesulitan pasti ada ujung kemudahan akan membawa kita menjadi manusia yang tidak pernah putus asa dalam menghadapi problematika kehidupan. Sejalan dengan itu, Allah juga telah memberi garansi bahwa tidak akan membebani manusia sesuai dengan batas kemampuannya
 
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS. al-Baqarah:286)
Disadari atau tidak setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya. Ada yang sulit mencari pekerjaan, sulit mencari jodoh, usahanya dalam kebangkrutan, atau kesulitan-kesulitan lainnya. Kesulitan dalam menghadapi kehidupan tersebut tak jarang membuat seseorang menjadi frustasi, stress dan putus asa, terlebih jika memang seseorang tersebut hidupnya jauh dari Allah SWT.
Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda dalam menghadapinya, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya. Sebagai seorang Muslim mungkin diantara sikap berikut ini bisa diterapkan dalam menghadapi problematika kehidupan di dunia ini.
1. Sabar
Kita memang diharuskan memiliki keiinginan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita. Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.
Begitu pula dalam hidup ini ternyata sering sekali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya. Andaikata kita selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya maka betapa terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan, hati yang galau. Karena itu dibutuhkan kesabaran untuk melewati hal tersebut.


Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa( QS. al-Baqarah: 177)
Berkenaan dengan sabar, Hasbi Ash-Shidieqy mengartikannya dengan perasaan tahan menderita yang tidak disenangi dengan ridha dan kemauan hati dan dengan menyerahkan diri kepada Allah[8].
Lebih lanjut Hasbi Ash- Shidieqy mengategorikan sabar dalam tiga macam, yaitu:
1.  Menahan diri dari membuat segala pekerjaan yang jahat dan dari menuruti hawa nafsu angkara murka dan melakukan pekerjaan yang dapat menghinakan diri serta menjatuhkan nama baik.
2.  Menahan kesusahan, kepedihan dan kesengsaraan
3.  Menahan diri dari kemunduran, yakni menahan diri dari mundur ke belakang di tempat-tempat yang tidak patut kita mengundurkan diri, seperti ketika membela kebenaran, menjaga harga diri[9].
2. Tawakal
Bertawakal kepada Allah adalah kunci kesuksesan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Allah SWT telah memberikan janjinya di dalam surat at-Thalaq bahwa Dia akan mencukupkan segala keperluan orang-orang yang bertawakal.



  “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(at-Thalaq: 3)
Dalam sebuah tulisan di tabloid Mutiara Iman, tawakal disebutkan dari kata “wukul’ yang berarti menyerahkan atau mempercayakan. Jadi yang dimaksud tawakal adalah berkaitan dengan keyakinan.[10]
Sementara Imam Al-Qusyairi menerjemahkan tawakal lebih kepada pendekatan tasawuf. Menurutnya, tawakal adalah perbuatan hati yang tidak akan hilang akibat perbuatan lahiriyah setelah seseorang menyatakannya.[11] Bagi Al-Qusyairi, takdir adalah kehendak Allah yang berlaku bagi semua manusia. Apabila perkara terasa sulit, maka itu merupakan takdir-Nya. Dan apabila terasa mudah, maka Allahlah yang memberi kemudahan.
Banyak sekali hikmah yang dapat diambil apabila kita selalu bertawakal kepada Allah SWT dan ridha atas apa yang kita dapatkan. Dengan selalu berhusnudzan kepada Allah dan menerima dan memahami apapun yang telah ditetapkan Allah adalah yang terbaik bagi kita. Dengan demikian tidak aka nada kekhawatiran dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Dengan bahasa lain, seorang mukmin tidak patut khawatir ataupun takut terhadap sesuatu yang belum terjadi, karena hal tersebut masih menjadi rahasia Allah.
Tawakal menghasilkan hamba-hamba yang bertakwa kepada Allah SWT. Kedalaman takwa seseorang akan menghasilkan jalan keluar bagi setiap persoalannya.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS: at-Thalaq: 2)
Bertawakal bukan berarti menyerahkan sepenuhnya persoalan kepada Allah tanpa disertai usaha atau yang kerap disebut ikhtiar. Tawakal itu sendiri bisa dikatakan terdiri dari penyerahan diri kepada Allah dan melakukan usaha.
اِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ (رواه ابن حبان)
Ikatlah untamu dan bertawakkallah” (HR: Ibnu Hibban)
Dalam hadis lain disebutkan bahwa orang-orang yang bertawakal akan memasuki surga tanpa melalui hisab.
سَبْعُوْنَ اَلْفً مِنْ اُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَهُمُ الَّذِيْنَ لَأيَكْتَوُوْنَ وَلَأيَتَطَيَّرُوْنَ وَلَأيَسْتَرِقُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (رواه الشيخان)
Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang dari umatku tanpa hisab. Meraka adalah orang-orang tidak mengerjakan rajah sembur, tidak menyandarkan kesialan pada burung, tidak berobat pada besi panas dan mereka bertawakal kepada Tuhannya” (HR Bukhari-Muslim)
3. Syukur
Syukur juga merupakan sikap yang patut ditunjukkan oleh muslim dalam menghadapi romantika kehidupan ini. Dengan selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah manusia akan selalu damai dalam menatap kehidupan.


Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS An-Nahl: 78)
Ayat diatas menunjukkan bahwa kita terlahir dalam kondisi yang tidak memiliki apa-apa, berada dalam ketidakmampuan serta tidak mengetahui sesuatu pun. Atas bentuk nikmat jasadi yang telah diberikan Allah sudah sepantasnya kita menyukurinya. Syukur membentuk pribadi yang tidak pernah serakah, pribadi yang selalu menerima sesuai dengan kapasitasnya.


4. Kesimpulan
Surat al-Insyirah mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa optimis dalam menghadapi romantika kehidupan. Dalam surat al-Insyirah tersebut, Allah menggaransi bahwa setiap problematika kehidupan manusia akan selalu ada jalan keluarnya. Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuan hamba tersebut.
Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita senantiasa menyandarkan diri kepada Allah dalam menghadapi persoalan hidup. Sikap sabar, tawakal serta bersyukur merupakan diantara sikap yang dapat menjauhkan diri dari keputusasaan.
Menyerahkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati obat yang mujarab dalam menghadapi persoalan kehidupan. Allahpun telah menjanjikan dalam firmannya bahwa Dia akan mencukupkan keperluan orang-orang yang senantiasa bertawakal. Begitu pula Allah juga menegaskan akan menambah nikmat orang-orang yang senantiasa bersyukur.






[1] Imam Ghazali. Ajaran Bahagia (terj. Kimyaus Sa’adah). Yogyakarta : Cakrawala.2011. hlm. 2.
[2] Imam bukhary. Hadist Shahih Bukhari. Surabaya: Gita Media. 2009. Hlm. 787.
[3] Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemah. Bandung: Diponegoro. 2005. hlm. 596.
[4] Yuli Farida. Dahsyatnya Surat Alam Nasyrah. Yogyakarta: Mutiara Media.2011. hlm. 15
[5] Ibid,. hlm.20
[6] Ibid., hlm.21
[7] Ibid,.hlm.48
[8] Hasbi Ash_Shidieqy. Al-Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1977. hlm. 455
[9] Ibid,.hlm.455
[10] Mutiara Iman. edisi III. Burungpun Bertawakal.  Jakarta: Mutiara Media.hlm. 9
[11] Ahmad Mudjab Mahalli. Membangun Pribadi Muslim. Yogyakarta: Menara Kudus. hlm. 71.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar