ROMANTIKA KEHIDUPAN
Ditulis : Muhammad
Fahrurroji
Mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Jakarta
1. Latar Belakang
Selama nafas masih dalam jasad badani, maka selama itu
pula manusia akan senantiasa berhadapan dengan masalah. Karena itu, manusia
harus menyadari bahwa hidup ini kumpulan masalah. Siapapun orangnya, setinggi
apapun kedudukannya, sebanyak apapun hartanya, dimanapun dan kapanpun, pasti
akan menghadapi masalah. Ada pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi
kedudukan, semakin tinggi pula masalah yang dihadapi. Seperti halnya sekolah,
semakin tinggi tingkatannya semakin berat juga ujiannya.
Perasaan senang, susah, gembira, bersedih adalah bagian
dari perjalanan hidup manusia atau inilah yang kerap disebut sebagai romantika
kehidupan. Proses perjuangan menaklukkan masalah itulah yang dikatakan sebagai
hidup, sehingga seorang yang membenci masalah sama halnya dengan membenci
kehidupan.
Kehidupan di dunia ini memang penuh dengan misteri. Jika
sekiranya masa depan bisa diketahui, sudah barang tentu seseorang sudah tahu
kemana harus pergi dan apa yang harus dilakukan. Jika seseorang melihat hidup
ini sebagai rangkaian tantangan, maka setiap permasalah yang dihadapi dianggap
sebagai sebuah kesempatan untuk berkembang. Namun sebaliknya, apabila
membayangkan kehidupan ini sebagai lingkaran masalah tak berujung, maka
hasilnya adalah perasaan pesimistis, keputus asaan dan kegelisahan.
Semua orang secara adil mendapatkan masalah, hanya bentuk
dan kadarnya sajalah yang membedakan. Masalah adalah sunatullah maka mau tidak
mau setiap orang akan selalu menemuinya. Karena masalah memang Allah ciptakan
menyatu dengan kehidupan manusia. Oleh sebab itu tak salah jika Imam Ghazali
menyebutkan bahwa kebahagian manusia itu adalah ketika ia bisa mengenali diri
sendiri.[1]
Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya dalam menghadapi
romantika kehidupan ini selalu menyandarkan diri kepada Allah SWT. Sebab Allah
merupakan dzat yang membuat kehidupan dan sudah tentu Allah jugalah petunjuk
terbaik dalam menjalani kehidupan.
Nabi sebagai manusia sempurna yang bisa dijadikan
tauladan bagi segenap umat, juga tidak lepas dari berbagai kesulitan. Karena
itu dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam bukhari, nabi mengajarkan doa
kepada kita ketika menemui kesulitan.
عَنْ اِبْنِ عَبَّاسِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صعلم
يَدْعُو عِنْدَ الْكَرْبِ يَقُوْلُ: لَأالَهَ الّأ اللهُ العَظِيْمُ الحَلِيمُ لَأالَهَ الّأ
اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
“ Dari
Ibnu Abbas berkata: nabi SAW berdoa ketika dalam kesulitan, “ Tiada Tuhan
selaian Allah Yang Maha Besar dan Maha Penyantun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan bumi, Tuhan arasy
Yang Maha Besar”[2]
Atas
dasar inilah penulis mencoba untuk menganalisa dalil-dalil yang berkaitan
dengan romantika kehidupan, khususnya surat Al-Insyirah, serta cara menyikapi
problematika hidup sebagaimana yang disyariaatkan Allah dan rasul-Nya.
2.
Telaah
terhadap Surat Al-Insyirah
1.
Bukankah
Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
2. Dan Kami telah menghilangkan daripadamu
bebanmu.
3. Yang memberatkan punggungmu
4. Dan
Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu
5. Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan
7. Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain
Mengenai penamaan surat ini, para ulama berbeda pendapat.
Ada sebagian yang menamakan surat ini dengan surat Alam Nashrah, ada pula yang
menyebutkan dengan asy-Syarh dan juga ada yang menamainya al-Insyirah[4].
Dalam mushaf Al-Qur’an cetakan Indonesia hampir semua menuliskannya
dengan nama surat al-Insyirah. Sedang umumnya Qur’an cetakan timur tengah
menyebut dengan asy-Syarh.
Menurut Jalalludin as-Sayuthi dalam Lubab an-Nuqul fi
Asbab an-Nuzul yang dikutip oleh Yuli Farida, bahwa secara historis turunnya
surat ini dilatarbelakangi atas peristiwa penghinaan dan olok-olokan kaum
musrikin terhadap kaum muslimin dengan kefakiran dan kemiskinan. Oleh karena
itu, surat ini diturunkan sebagai pelipurlara bagi rasulullah dan pengikutnya[5].
Sementara ath-Thabarsi dalam tafsir Jam’u al-Bayan,
kutipan Yuli Farida dalam Dahsyatnya Surat Alam Nasyrah, menuturkan
bahwa fadhilah membaca surat ini dapat menghilangkan kesedihan yang dialami[6].
Dengan melihat sekilas arti dalam surat al-Insyirah ini
kita dapat mengetahui bahwa tema utama surat tersebut adalah tentang penenangan
hati Nabi Muhammad SAW menyangkut masa lalu dan masa datang beliau, serta
tuntunan untuk berusaha sekuat tenaga dengan penuh rasa optimisme.
Meski surat al-Insyirah ini secara historisnya diturunkan
sebagai tasliyah/pelipurlara bagi nabi Muhammad, namun sebagai tuntunan banyak
kandungan yang dapat diambil pelajaran, terutama dalam menyikapi problematika
kehidupan.
Pada ayat ke-5 dan 6 surat al-Insyirah kita dapat melihat
Allah telah menjanjikan bahwa betapapun beratnya kesulitan yang dihadapi, pasti
dalam celah-celah kesulitan tersebut terdapat kemudahan. Ayat tersebut
memesankan agar manusia senantiasa berusaha menemukan segi-segi positif yang
dapat dimanfaatkan dari setiap kesulitan.
Ayat ke-5 surat al-Insyirah yang diulang kembali pada
ayat ke-6 menunjukkan adanya penekanan. Pengulangan ini menurut Muhammad Abduh
terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam. Sudah semestinya
mereka menyadari, bahwa setiap kesulitan itu ada kemudahan dan bahwasanya janji
Allah itu pasti benar. Dengan demikian sudah menjadi kewajiban bagi kaum
muslimin mengikuti jejak rasullulah dan meneladaninya.[7]
Untuk menguatkan keyakinan bahwa setiap kesulitan
terdapat kemudahan, maka ayat tersebut mengalami pengulangan dua kali.
Keseriusan ayat tersebut juga ditunjukkan dengan penggunaan lafald inna (انَّ) yang dalam
kaidah nahwiyah disebut sebagai ta’kid atau pengokohan. Dengan demikian
sangatlah terang bahwa tidak ada permasalahan yang tidak ada jalan keluarnya
asalkan senantiasa berusaha dan bertawakal kepada Allah.
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, rasulpun
menghimbau kepada umatnya agar dalam menghadapi problematika hidup segera
menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Dengan menyandarkan diri kepada ketentuan
Allah, hidup akan menjadi lebih tenang, tentram, tanpa kekhawatiran atau
kegalauan.
اَلْمُؤْمِنًوْنَ القَوِيُّ خًيْرٌ مِنَ الْمًؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلِّ
خَيْرٍ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنُ
بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ , وَاِنْ اَصَابَكَ شَيْئٌ فَلَأ
تَقُلْ لَوْ اَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا
وَكَذَا, وَلَكِنْ قُلْ
قَدَرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
فَاِنْ
"لَوْ"
تَفْتَحُ عَمَلَ
الشَّيْطَانِ
( رواه مسلم)
“ Seorang mukmin
yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang
lemah. Karena itu pegang teguhlah di tiap-tiap kebajikan yang akan memberi
manfaat. Mohon pertolonganlah kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Dan
jika engkau ditimpa suatu bencana, janganlah enkau katakan: jika aku berbuat
begini akan tentu akan menjadi begini, tetapi katakanlah telah ditakdirkan oleh
Allah dan apa yang Allah kehendaki, Allah membuatnya. Maka sesungguhnya
perkataan “seandainya” membukakan amalan syaitan” (HR Muslim)
3. Sikap Muslim dalam
Menghadapi Romantika Kehidupan
Surat al-Insyirah
mengajarkan kepada kita untuk selalu optimis dalam menghadapi romantika
kehidupan. Keyakinan kita bahwa setiap kesulitan pasti ada ujung kemudahan akan
membawa kita menjadi manusia yang tidak pernah putus asa dalam menghadapi
problematika kehidupan. Sejalan dengan itu, Allah juga telah memberi garansi
bahwa tidak akan membebani manusia sesuai dengan batas kemampuannya
“Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala
(dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya” (QS. al-Baqarah:286)
Disadari atau tidak
setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya. Ada
yang sulit mencari pekerjaan, sulit mencari jodoh, usahanya dalam kebangkrutan,
atau kesulitan-kesulitan lainnya. Kesulitan dalam menghadapi kehidupan tersebut
tak jarang membuat seseorang menjadi frustasi, stress dan putus asa, terlebih
jika memang seseorang tersebut hidupnya jauh dari Allah SWT.
Namun andaikata kita cermati dengan seksama
ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda dalam
menghadapinya, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang
menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya. Sebagai
seorang Muslim mungkin diantara sikap berikut ini bisa diterapkan dalam
menghadapi problematika kehidupan di dunia ini.
1. Sabar
Kita memang diharuskan memiliki keiinginan,
cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat
dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia
akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita. Namun
bersamaan dengan itu kitapun harus sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang
memiliki banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau
oleh daya nalar dan kemampuan kita.
Begitu pula dalam hidup ini ternyata sering
sekali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh
kita, yang di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya. Andaikata
kita selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya maka betapa
terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan, penyesalan, keluh kesah,
kedongkolan, hati yang galau. Karena itu dibutuhkan kesabaran untuk melewati
hal tersebut.

“Dan
orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang
yang bertakwa” ( QS. al-Baqarah: 177)
Berkenaan dengan
sabar, Hasbi Ash-Shidieqy mengartikannya dengan perasaan tahan menderita yang
tidak disenangi dengan ridha dan kemauan hati dan dengan menyerahkan diri
kepada Allah[8].
Lebih lanjut Hasbi
Ash- Shidieqy mengategorikan sabar dalam tiga macam, yaitu:
1. Menahan diri dari membuat segala pekerjaan
yang jahat dan dari menuruti hawa nafsu angkara murka dan melakukan pekerjaan
yang dapat menghinakan diri serta menjatuhkan nama baik.
2. Menahan kesusahan, kepedihan dan
kesengsaraan
3. Menahan diri dari kemunduran, yakni menahan
diri dari mundur ke belakang di tempat-tempat yang tidak patut kita
mengundurkan diri, seperti ketika membela kebenaran, menjaga harga diri[9].
2.
Tawakal
Bertawakal kepada
Allah adalah kunci kesuksesan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Allah
SWT telah memberikan janjinya di dalam surat at-Thalaq bahwa Dia akan
mencukupkan segala keperluan orang-orang yang bertawakal.

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.”(at-Thalaq: 3)
Dalam sebuah tulisan
di tabloid Mutiara Iman, tawakal disebutkan dari kata “wukul’ yang berarti
menyerahkan atau mempercayakan. Jadi yang dimaksud tawakal adalah berkaitan
dengan keyakinan.[10]
Sementara Imam Al-Qusyairi
menerjemahkan tawakal lebih kepada pendekatan tasawuf. Menurutnya, tawakal
adalah perbuatan hati yang tidak akan hilang akibat perbuatan lahiriyah setelah
seseorang menyatakannya.[11]
Bagi Al-Qusyairi, takdir adalah kehendak Allah yang berlaku bagi semua manusia.
Apabila perkara terasa sulit, maka itu merupakan takdir-Nya. Dan apabila terasa
mudah, maka Allahlah yang memberi kemudahan.
Banyak sekali hikmah
yang dapat diambil apabila kita selalu bertawakal kepada Allah SWT dan ridha
atas apa yang kita dapatkan. Dengan selalu berhusnudzan kepada Allah dan
menerima dan memahami apapun yang telah ditetapkan Allah adalah yang terbaik
bagi kita. Dengan demikian tidak aka nada kekhawatiran dalam mengarungi
samudera kehidupan ini. Dengan bahasa lain, seorang mukmin tidak patut khawatir
ataupun takut terhadap sesuatu yang belum terjadi, karena hal tersebut masih
menjadi rahasia Allah.
Tawakal
menghasilkan hamba-hamba yang bertakwa kepada Allah SWT. Kedalaman takwa
seseorang akan menghasilkan jalan keluar bagi setiap persoalannya.
“Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”
(QS: at-Thalaq: 2)
Bertawakal
bukan berarti menyerahkan sepenuhnya persoalan kepada Allah tanpa disertai
usaha atau yang kerap disebut ikhtiar. Tawakal itu sendiri bisa dikatakan
terdiri dari penyerahan diri kepada Allah dan melakukan usaha.
اِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ (رواه ابن حبان)
“Ikatlah untamu dan bertawakkallah” (HR: Ibnu
Hibban)
Dalam hadis lain disebutkan bahwa orang-orang yang
bertawakal akan memasuki surga tanpa melalui hisab.
سَبْعُوْنَ اَلْفً مِنْ
اُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَهُمُ الَّذِيْنَ لَأيَكْتَوُوْنَ وَلَأيَتَطَيَّرُوْنَ وَلَأيَسْتَرِقُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (رواه الشيخان)
“ Akan
masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang dari umatku tanpa hisab. Meraka
adalah orang-orang tidak mengerjakan rajah sembur, tidak menyandarkan kesialan
pada burung, tidak berobat pada besi panas dan mereka bertawakal kepada
Tuhannya” (HR Bukhari-Muslim)
3.
Syukur
Syukur
juga merupakan sikap yang patut ditunjukkan oleh muslim dalam menghadapi
romantika kehidupan ini. Dengan selalu bersyukur atas segala nikmat yang
diberikan Allah manusia akan selalu damai dalam menatap kehidupan.

“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur” (QS An-Nahl: 78)
Ayat
diatas menunjukkan bahwa kita terlahir dalam kondisi yang tidak memiliki
apa-apa, berada dalam ketidakmampuan serta tidak mengetahui sesuatu pun. Atas
bentuk nikmat jasadi yang telah diberikan Allah sudah sepantasnya kita
menyukurinya. Syukur membentuk pribadi yang tidak pernah serakah, pribadi yang
selalu menerima sesuai dengan kapasitasnya.
4.
Kesimpulan
Surat
al-Insyirah mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa optimis dalam
menghadapi romantika kehidupan. Dalam surat al-Insyirah tersebut, Allah
menggaransi bahwa setiap problematika kehidupan manusia akan selalu ada jalan
keluarnya. Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuan hamba
tersebut.
Sebagai
seorang muslim, sudah sepatutnya kita senantiasa menyandarkan diri kepada Allah
dalam menghadapi persoalan hidup. Sikap sabar, tawakal serta bersyukur
merupakan diantara sikap yang dapat menjauhkan diri dari keputusasaan.
Menyerahkan
diri kepada Allah dengan sepenuh hati obat yang mujarab dalam menghadapi
persoalan kehidupan. Allahpun telah menjanjikan dalam firmannya bahwa Dia akan
mencukupkan keperluan orang-orang yang senantiasa bertawakal. Begitu pula Allah
juga menegaskan akan menambah nikmat orang-orang yang senantiasa bersyukur.
[1] Imam Ghazali. Ajaran Bahagia
(terj. Kimyaus Sa’adah). Yogyakarta : Cakrawala.2011. hlm. 2.
[3]
Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemah. Bandung: Diponegoro. 2005. hlm. 596.
[4] Yuli
Farida. Dahsyatnya Surat Alam Nasyrah. Yogyakarta: Mutiara Media.2011.
hlm. 15
[5] Ibid,. hlm.20
[6] Ibid., hlm.21
[7] Ibid,.hlm.48
[9] Ibid,.hlm.455
[10] Mutiara
Iman. edisi III. Burungpun Bertawakal.
Jakarta: Mutiara Media.hlm. 9
[11] Ahmad
Mudjab Mahalli. Membangun Pribadi Muslim. Yogyakarta: Menara Kudus. hlm.
71.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar